Senin, 06 Juli 2009

masa Daulah bani Abbasiyah,

BAB I

PENDAHULUAN

Masa kejayaan islam mengalami puncak keemasan adalah pada masa Daulah bani Abbasiyah, pada masa itu berbagai kemajuan dalam segala bidang mengalami peningkatan seperti bidang pendidikan, ekonomi, politik dan sistem pemerintahan nya. Masa keemasan yang terjadi pada masa daulah bani Abbasiyah terjadi disaat masa kholifah Harun Ar- rasyid, dikala ia memimpin pemerintahan tersebut semua bidang dalam pemerintahan mengalami kemakmuran, karena adanya sistem pembayaran pajak dari hasil bumi yang dikelola kembali untuk kepentingan rakyatnya.

Oleh karena itu masyarakat merasakan kesejahteraan pada masa pemerintahan harun ar- rasyid tersebut. Selain dari kepempinan, kemajuan dan kejayaan islam pada masa daulah bani abbasiyah terjadi karena adanya gerakan penerjemahan yang dilakukan oleh orang – orang yang di utus oleh pemerintah bahkan mendapat bayar yang besar dari pemerintahan. Berbagai buku yang berasal dari bahasa Persia dan yunani mulai diterjemahkan kedalam bahasa arab pada masa itu. Pada masa itu juga lahir berbagai ahli filsafat islam seperti ibnu sina, al – farabi, ar- raji dan berbagai ahli filsafat ilmu yang lainnya.

Para ahli filsafat islam tersebut tidak hanya mendalami satu ilmu melainkan keseluruhan dalam bidang ilmu, seperti kedokteran, matematika, filsafat, astronomi dan sebaginya. Sehingga tidak aneh kalau pada masa pemerintahan daulah bani Abbasiyah mengalami puncak keemasan dan kejayaan. Karena dalam pemerintahan daulah bani Abbasiyah banyak silih berganti kepemimpinan, dan hal itu juga yang secara tidak langsung yang menyebabkan kemunduran dan kehancuran dari daulah bani Abbasiyah tersebut. Kemungkinan besar karena kurangnya kecakapan dari pemerintah yang memimpin negara, selain itu juga banyak pejabat pemerintahan yang hanya mementingkan kepentingan sendiri tanpa memperhatikan kepentingan rakyatnya, sehingga banyak terjadi korupsi dan ajang menikmati kemewahan untuk memperkaya dirinya, akibatnya pengeluaran kas negara lebih banyak dari pada pemasukan negara. Hingga muncullah berbagai faktor intern maupaun akstern yang menyebabkan kemunduran daulah bani Abbasiyah hingga akhirnya hancur.

Karena untuk membangun kembali sesuatu yang telah terjadi adalah dengan mempelajari sejarah sebagai cerminan untuk berhati – hati, sehingga teliti agar dapat menghindari hal- hal yang menghambat terbangunnya itu dan hal yang menyebabkan kehancurannya itu. sehingga kita termotivasi untuk membangun kembali peradaban islam dan dapat membangun kejayaan islam Pada masa sekarang.

b. Rumusan masalah

Dalam pembahasan makalah ini kami membahas masalah yang berkaitan dengan sejarah peradaban islam daulah bani abbasiyah meliputi :

a. Asal mula daulah bani abbasiyah

b. Bentuk pemerintahan dari daulah bani abbasiyah

c. Masa kejayaan dan Kemajuan dari daulah bani abbasiyah

d. Masa kemunduran daulah bani abbasiyah

C. Metode

Metode yang kami gunakan dalam pembuatan makalah ini adalah metode literatur dengan menggunakan beberapa sumber buku yang berkaitan dengan masalah sejarah peradaban islam mengenai daulah bani abbasiyah.

d. Tujuan

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur dengan berkelompok untuk bahan diskusi mata kuliah sejarah peradaban islam, selain itu juga untuk menambah pemahaman pada diri kita mengenai sejarah peradaban islam pada masa daulah bani abbasiyah, sehingga kita memahami dan mengerti agar menjadi cerminan dari sejarah tersebut untuk dapat membangun kembali sejarah peradaban islam pada masa kini dan yang akan datang agar islam ini benar- benar berjaya di muka bumi ini. Aamin

BAB II

PEMBAHASAN

PERKEMBANGAN DAN PERADABAN PADA MASA DAULAH ABBASIYAH

A. Asal - mula Daulah Abbasiyah

Peradaban islam mengalami kejayaan pada masa Daulah Abbasiyah ,mulai dari perkembangan ilmu pengetahuan sangat maju karena adanya penerjemahan naskah – naskah asing terutama yang berbahasa Yunani kedalam bahasa Arab, didirikannya perpustakan BaitAl-Hikmah dan terbentuknya ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berpikir.kemajuan peradaban Abbasiyah sebagian disebabkan oleh stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi kerajaan ini. Pusat kekuasaan daulah bani Abbasiyah berada di Bagdad. Daerah ini merupakan tempat bertumpu pada pertanian dengan sistem irigasi dan kanal di sungai Eufrat dan Tigris yang mengalir sampai Teluk Persia perdagangan juga menjadi tumpuan kehidupan masyarakat Bagdad yang menjadi kota transit perdagangan antara wilayah Timur dengan wilayah Barat , sebelum ditemukannya jalan laut timur Tanjung Harapan di Afrika selatan. Wilayah kekuasan ini membentang sepanjang 6500 km dari sungai Indus di India sampai keperbatasan barat Tunisia Afrika Utara, sedangkan.sebelah barat seluas 3000 km.

Penduduk daulah Abbasiyah terdiri dari berbagai etnik dan suku bangsa yang hidup diwilayah yang memiliki cuaca dan kondisi geografis yang sangat berbeda. Pemerintahan pada masa kekholifahan Daulah Abbsiyah dibagi pada masa :

1. Al – Syafah ( 749 – 754 ) 6. Al- Mansur ( 754 – 775 )

2. Al Mahdi ( 775 – 785 ) 7. Al – Hadi (785 – 786 )

3. Harun Al – Rasyid ( 786 – 809 ) 8. Al – Amin ( 809 – 813 )

4. Al – Ma’mun ( 813 – 833 ) 9. Al – Mu’tasim ( 833 – 842 )

5. Al – Wathiq ( 842 – 847 ) 10.Al Mutawakil ( 847 – 861 )

Ada beberapa alasan yang mengapa gerakan revolusi abbasiyah berhasil mendapat dukungan

1. Banyak kelompok umat yang tidak mendukung kekuasan Bani umayah yang korup, sekuler dan memihak sebagian kelompok.Abu al-Abbas yang menggerakan roda revolusi ini menggunakan ideology keagamaan untuk meruntuhkan legitimasi kekuasaan Bani Umayyah. Isi dari legitimasi keagamaan untuk menggantikan Bani Umayyah dalam memimpin umat islam.

2. Dia memuji dan membela islam serta bersyukur pada Tuhan.Kemudian, dia berbicara mengenai keluarganya sendiri, bahwa ketakwaanya dan kedekatan kekerabatannya dengan Nabi Muhammad. Argumentasi ini sangat menarik dukungan terutama dari kalangan Syi’ah yang percaya bahwa kekhalifahan adalah hak keluarga Nabi Muhammad.

3. Propaganda politik Abbasiyah adalah mengenai pembagian kekayaan negara yang adil sebagaimana yang dijalankan pada masa Khulafa Rasyidin sebelum Bani Umayyah memonopoli kekayaan ini. Menurut propaganda ini,menggulingkan kekuasaan Bani Umayyah diperintahkan oleh agama karena komitmen mereka dalam menegakan syariat Islam sangat rendah.Bani Abbas meyakinkan para pendukungnya bahwa Bani Umayyah tidak memerintah umat berdasarkan ajaran Muhammad Rasulullah.memberontak terhadap kekuasaan Bani Umayyah tidak hanya hak bagi setiap umat tetapi juga kewajiban.

4. Suporter gerakan Abbasiyah yang utama dalam menggulingkan kekuasaan Bani Umayyah adalah para mawali keturunan Persia yang tingal di wilayah khurasan .kekuatan tentara dan sejatalah yang menetukan dalam mengguling kan imperium bani umayah yang masih memiliki pasukan yang kuat . karena itu abu al abbas sengaja merekrut orang orang khurasan yang di kenal sangat kuat ,pemberani dan ahli srtategi perang sebagai tulang pungung kekuatan militernya[1] .sukses berkat organisasi tentara yang di persenjatai dan diorganisi dengan baik. Abu muslim al khurasan dapat mempersatukan dan memimpin pasukah yang terdiri dari orang orang arab dan non – Arab yang di perlakukan setara. Pasukan abbasiyah menghacurkan kekuatan kholifah umayah terahir , marwan bin Muhammad yang sempat melarikan diri kemesir sebelum terbunuh didesa busir pada bulan agustus 750. kholifah abbasiyah mengangap kekuasaanya berasal dari tuhannya (divine origin) dan menjadi penuntun yang benar bagi masyarakat muslim. Sehingga banyak para kholifah yang menjadi pelindung para ilmuan dan ulama[2]

B .Bentuk pemerintahan

1. khalifah abbasiyah pertama Abu al-Abbas Abd alloh bin Muhammad As –saffah di umumkan di masjid agung di khufah pada 132 H 749 M. As –saffah, dalam pemerintahannya ia melakukan:

a. Sang penumpang darah dengan dukungan dari paman pamannya berusaha membersihkan sisa - sisa kekuatan Bani umayyah.

b. Revolusi sosial dan politik ini dilakukan untuk mereformasi dinasti umayyah agar sesuai dengan ajaran murni islam. mereka menggulingkan kekuasaan daulah Bani umayyah yang di anggap korup, dekaden, otoriter dan sekuler.[3]

c. Wilayah timur imperium, khurasan, belum sepenuhnya dapat di kontrol pemerintah pusat tetapi masih di kuasai secara otonomi oleh gubernur bu muslim .ketika as –asaffaah meningal pada 134 751 .pemerintah abbasiyah di bawah kendali adiknya.

d. Abu jafar abd alloh bin Muhammad Al – mansur ( 709 813 ) setelah dapat mengalahkan pamannya Abdallah bin ali ,yang berusaha juga menjadi kholifah.

2. Pemerintahan Masa Al – Mansur

1. Dikatakan sebagai tahun perjuangan dan konsolidasi kekuasaan abbasiyah.

2. Visi politik dan pendekatan pragmatis khalifah sangat berperan dalam menjaga stabilitas pemerintah.

3. Merupakan Tulang punggung kekuatan Abbasiyah.. Al – mansur meningal karena sakit dalam suatu perjalanan haji kelima bersama rombongan keluarga dan pembesar abbasiyah dalam usia sekitar 65 tahun setelah memerintah selama lebih dari 21 tahun [4].

4. Pengangkatan wazir sebagai koordinator departemen [5] wazir pertama adalah khalid ibnu barmak yang berasal dari persia

5. membentuk protokol negara, sekertaris negara, kepolisian negara, disamping angkatan bersenjata dan lembaga kehakiman negara.[6]

3. Pemerintahan Al –mahdi

1. sangat popular karena lebih lunak pada lawan politiknya, lebih dermawan dan lebih berperan dalam membela islam.

2. khalifah yang bernama Abu abdulloh Muhammad, abdulloh ini sejak usia 15 tahun telah ikut memimpin pasukan di medan peperangan.

3. perubahan penting terjadi fraksi politik khurasan dan sekelompok militer mulai menjadi saingan keluarga keturunan abbas.

4. Sebagian kalangan biroksi seperti secretariat kerja ( kuttab ) mulai menjadi kelompok lain .orang –orang non arab berasal dari budak yang telah di merdekakan.

5. Sebelum meningal Al – mahdi telah mempersiapkan dua anaknya, Al – hadi dan harun al – rasyid, untuk bergiliran mengantikan kekuasaanya, mereka di latih untuk ikut aktif mengurus jalannya pemerintah dan sesekali memimpin pasukan di medan pertempuran. Alasan al – mahdi mengangkat dua orang putra mahkota adalah agar kekuasaan abbasiyah tetap di tangan keluarga keturunan. Al – abbas. Setelah al –mahdi meningal, putra mahkota pertama, al – hadi.

4.Pemerintahan di masa Al – Hadi.

Dalam pemerintahan dia mengedalikan kerajaan dengan keras, sesuai dengan karakternya yang kasar dan mudah tersinggung. Al – hadi kurang menghargai orang orang non arab ( mawali ) dan kelompok syiah yang dulu menjadi tulang pungung kekuatan revolusi abbasiyah. Ia melangar keputusan ayahnya yang mengangkat saudaranya, harun untuk mengantikan tahtanya setelah meningal dengan mengangkat anaknya sendiri ja’far, sebagai putra mahkota akan tetapi dia meninggal secara tiba –tiba, sehingga semua yang direncanakan gagal.

5. Pemerintahan Harun Al-Rasyid

1. Dengan gelar Al - rasyid ( yang terbimbing ) , Abu ja’far harun bin Muhammad menjadi khalifah abbasiyah keempat pada 15 september 786, merupakan khalifah yang berhasil.

2. Pada masa pemerintahan ini, kondisi kerajaan terlihat lebih damai dengan kekayaan yang berlimpah ruah. Perkembangan peradaban juga sangat tinggi

3. Dia sangat dermawan terutama pada para penyair dan penyanyi yang memujanya. Namun, dia cenderung mengabaikan urusan keseharian yang diserahkan sepenuhnya pada para menterinya seperti keturunan barmak dan ibn al-rabi’.

4. Hanya dalam dua bidang ia terjun langsung yaitu memimpin pasukan yang diarahkan kedaerah kekuasaan Byzantium diwilayah bagian barat imperium Abbasiyah dan mengatur urusan administrasi

5. Daerah taklukan. Untuk itu, Khalifah Harun al Rasyid membangun angkatan laut. Dan menekuni administrasi keuangan.

6. Dermawan terhadap para penyair, perempuan, dia masih banyak meninggalkan banyak harta setelah meninggal.

Harun al-Rasyid menyiapkan dua anaknya untuk menjadi putra mahkota yaitu Muhammad atau al-amin yang dihadiahi wilayah Abbasiyah bagian barat dan Abdullah atau al-ma’mun yang diberi otonomi yang luas untuk mengatur wilayah Abbasiyah di bagian timur.setelah mengambil sumpah kedua putra mahkota di depan kabah untuk tidak saling berperang,Harun al rasyid masih menjabat sebagai khalifah sampai sekitar enam tahun yang merupakan periode anti klimaks. Karena sakit dan kelelahan ketika memimpin ekspedisi perang kedaerah khurasan, ia meninggal pada 809 m dengan meninggalkan api dalam sekam.

Harun al-Rasyid adalah khalifah yang banyak memanfaatkan kekayaan negara untuk keperluan sosial :mendirikan rumah sakit, Lembaga pendidikan kedokteran dan lembaga pendidikan farmasi,serta pemandian umum.bahkan memiliki sekitar 800 dokter.

Pada masa Harun al-Rasyid, institusi ini bernama Khizanah al-Hikmah (Hasanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian.Sejak 815 M

6. pemerintahan Al - Amin

Putra mahkota tertuanya dari Al- rasyid, Al - amin tidak bersedia membagi kekuasaanya dengan saudaranya al-mamun dengan mengangkat anaknya sendiri yang masih kecil menjadi putra mahkota dan perang saudara pun tak terelakan lagi. [7]

7. Pemerintahan Al- Am’mum

Kekuatan Al-Ma’mun bertumpu pada dua pondasi yaitu keluarga Tahir yang telah berjasa mengalahkan pasukan Al-Amin ,dan saudara Al-Ma’mun sendiri, Abu ishaq yang kemudian dikenal dengan Al-Mu’tasim.pada 827,al-Ma’mun memindahkan pusat kekuasaannya dari wilayah timur ke Bagdad.Dia juga berusaha memperkokoh pemerintahan dengan berusaha mengakhiri pemberontakan dan menguasai kembali pemerintahan propinsi. Dia mengubah nama khizanat al- hikmah menjadi Bayt Al- hikmah yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku – buku kuno yang didapat dari Persia, Bizantum, Etiopia dan India. Di bayt Al- hikmah juga terdapat observatorium astronomi untuk meliputi perbintangan.

C. Kemajuan pada masa Daulah bani Abbasyiah

Kemajuan yang terjadi pada masa daulah bani Abbasiyah disebabkan oleh dua hal:

1. Terjadinya Asimilasi antara bangsa- bangsa arab dengan bangsa lainyang terlebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang pengetahuan.Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa –bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan agama islam, pengaruh dari Persia sangat kuat yaitu dalam bidang pemerintahan, selain itu juga dalm bidang perkembangan ilmu, filsafat dan sastra.[8] Pengaruh dari India telihatdalam bidang kedokteran, ilmu matematika dan Astronomi[9]

2. Sedangkan pengaruh dari yunani masuk melalui terjemahan – terjemahan dalam bidang ilmu, terutama filsafat.

3. Kemajuan dalam bidang terjemahan berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa kholifah Al- mansur hingga harun ar- rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya – karya dalam bidang astronomi ( mathiq ). Fase kedua masa kholifah Al- ma’mum hingga tahun 300H. buku – buku yang diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung pada masa setelah 300 H terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang – bidang ilmu yang diterjemahkan semakin luas.[10]

C.1.Gerakan penerjemahan

Pada awal penerjemah, naskah yang diterjemahkan dalam bidang astrologi, kimia dan kedokteran.kemudian,naskah-naskah filsapat karya Aristoteles dan plato jugu diterjemahkan .Dalam masa keemasan, karya yang diterjemahkan kebanyakan tentang ilmu-ilmu pragmatis seperti kedokteran.Namun karya-karya puisi,drama cerpen dan sejarah jarang diterjemahkan karena bidang ini dianggap kurang bermanfaat dan dalam bahasa Arab sendiri.

Upaya besar-besaran untuk menerjemahkan manuskrip-manuskrip berbahasa asing terutama bahasa Yunani dan Persia ke dalam bahasa Arab mengalami masa keemasan pada masa Daulah Abbasiyah. Para imuwan diutus ke daerah Bizantium untuk mencari naskah- naskah Yunani dalam berbagai bidang ilmu terutama filsafat dan kedokteran. Sedangkan di Persia terutama dalam bidang tata negara dan sastra. Para penerjemah tidak hanya dari kalangan islam saja tetapi juga dari pemeluk agama Nasrani dari Syiria dan Majusi dari Persia. Biasanya naskah berbahasa Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Syiria kuno dulu sebelum ke dalam Bahasa Arab. Hal ini dikarenakan para penerjemah biasanya adalah para pendeta Kristen Syiria yang hanya memahami Bahasa Yunani dan bahasa mereka sendiri yang berbeda dari Bahasa Arab. Kemudian, para ilmuwan yang memahami Bahasa Syiria dan Arab menerjemahkan naskah tersebut ke dalam Bahasa Arab.

Pelopor gerakan penerjemah pada awal pemerintahan Daulah Abbasiyah adalah Khalifah Al- Mansur yang juga membangun ibukota Baghdad. Dia mempekerjakan orang- orang Persia yang baru masuk islam, seperti Nawbaht, Ibrahim al- fazari, dan Ali Ibn Isa untuk menerjemahkan karya- karya berbahasa Persia dalam bidang Astrologi ( ilmu perbintangan ) yang sangat berguna bagi kafilah dagang baik melalui darat maupun laut. Buku tentang ketatanegaraan dan politik serta moral seperti Kalila wa- Dimna dan Sindhind dalam Bahasa Persia diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab. Selain itu, manuskrip berbahasa Yunani seperti Logika karya Aristoteles, Almagest karya Ptolemy, Arithmetic karyua Nicomachus dari Gerasa, Geometri karya Euclid juga diterjemahkan.

Penerjemahan secara langsung dari Bahasa Yunani ke dalam Bahasa Arab dipelopori oleh Hunayn ibn Ishaq (w. 873), seorang penganut Nasrani dari Syiria. Dia memperkenalkan metode penerjemahan baru yaitu menterjemahkan kalimat, bukan menterjemahkan katas per-kata. Karena struktur kalimat dalam bahasa Yunani berbeda dengan struktur kalimat bahasa Arab. Selain itu, untuk memperoleh keakuratan dan keotentikan naskah,Hunain juga menggunakan metode penerjemahan dengan memperbandingkan beberapa naskah untuk mendapatkan naskah yang paling otentik yang kini dikenal dengan metode filologi.Gerakan penerjemahan ini sangat didukung oleh Khalifah al-Ma’mum yang membayar mahal hasil penerjemahan. Bahkan dia pernah membayar hasil penerjemahan setara bobot emas. Karena keinginanya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai super power dunia ketika itu, al-Ma’mum membentuk Tim penerjemah yang terdiri dari Hunain ibn Ishaq sendiri, dibantu anaknya, Ishaq dan keponakannya, hubaish, serta ilmuan lain seperti Qusta ibn Luqa, seorang beragama Kristen jacobite, Abu Bisr Matta ibn Yunus Seorang Kristen Nestorian,Ibn ‘Adi, Yahya ibn Bitriq dan lain-lain.Tim ini bertugas Menerjemahkan naskah-naskah Yunani terutama yang berisi ilmu-ilmu yang sangat di Perlukan seperti kedokteran.Keberhasilan penerjemah juga didukung oleh fleksibilitas. Bahasa Arab dalam menyerap bahasa asing dan kekayaan kosakata bahasa Arab.

a. Pengaruh gerakan penerjemahan terlihat dalm perkembangan ilmu pengetahuan umum terutama dalam bidang filsafat, astronomi, kedokteran, kimia dan sejarah. Dalam bidang astronomi yang terkenal adalah Al- faraji sebagai Astronom islam pertama kali menyusun astrolobe. Al- fargani yang dikenal di eropa dengan nama Al- faragnus yang menulis ringkasan astronomiyang diterjemahkan kedalam bahasa latin oleh Gerard Cremon dan johanes hispalensis.[11]Dalam lapangan kedokteran dikenal nama Al-Razi dan Ibn Sina. Al-Raazi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak.[12]Sesudahnya, ilmu kedokteran berada di tangan ibn Sina.Ibn Sina yang juhga filosof, berhasil menemukan system peredarandarah pada manusia dan juga banyak mengarang buku tentang filsafat. Yang terkenal diantaranya ialah L-Sifa.

b. Dalam bidang optika Abu Ali A-Hasan ibn Al-Haythami,yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen, terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa, mata mengirim cahaya kebenda yang dilihat. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi, dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Dibidang matematika terkenal nama Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi,yang juga mahir dalaam bidang astronomi.Dialah yang menciptakan ilmu aljabar. Kata “aljabar” berasal dari judul bukunya, al-jabar wa al-Muqobalah.[13] Dalam bidang sejarah terkenal nama Al-Mas’udi. Dia juga ahli dalam ilmu gografi.

c. Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat, antara lain Ibn Sina, dan Ibn Rusyd. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat, logika jiwa kengaraan, etika, dan interpretasin terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Rusyd yang dibarat lebih dikenal dengan nama Averroes, banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat, sehingga disana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisma.[14]

C.2. perkembangan dalam ilmu Agama

a. kalam mu’tazilah yang di gunakan sebagai madhab resmi negara pada masa pemerintahan Al –ma’mum

b. Hadis dan fiqih, ulama yang terlahir pada masa daulah bani Umayah dan meninggal pada masa daulah bani Abbasiyah adalah Abu hanifah karyanya adalah Al- fiqh al- akbar[15], murid dari Abu hanifah yaitu Abu yusuf yang menulis kitab Al- kharaj[16] yang masih dapat di baca hingga saat ini.Bidang hukum islam,karya pertama yang diketahui adalah Majmu al-Fiqih karya Zaid bin Ali (w.122 /740) yang berisi tentang fiqh Syi’ah Zaidah.Sebenarnya mazhab Hanafi adalah Abu Yusuf (w.182/798).Abu Yusuf menjadi hakim utma pada masa Harun al-Rasyid. Dia sendiri menulis kitab tentang berbagai macam pajak dalam islam termasuk zakat.

C.3.Dalam bidang pendidikan. Pendidikan dibagi dalam dua tingkat[17]yaitu:

a. Makhtab atau kuttab dan mesjid yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak –anak mengenal dasar – dasar bacaan, hitungan dan tulisan, tempat para remaja belajar dasar – dasar ilmu agamaseperti tafsir, fiqih, hadis dan bahasa.

b. Tingkat pendalaman, para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya pergi keluar daerah menuntut ilmukepada seseorang atau beberapa ahli dalam bidangnya masing –masing .pada umumnya apabila ilmu yang dituntut berupa agama biasanya pengajaran berlangsung di masjid atau di rumah guru yang bersangkutan, bagi pengusa yang ingin belajar biasanya dilaksankan di istana atau di rumah pejabat yang bersangkutan. Dengan berkembangnya lembaga pendidikan kemudian berkembang pula perpustakaan. Perpustakaan pada waktu itu merupakan sebuah universitas, karena disamping terdapat kitab- kitab disana juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi.

C.4.Dalam bidang tafsir

Sejak awal telah dikenal dua metode penafsiran pertama, tafsir bi- Al-matsur yaitu interpensi tradisional dengan mengambil interpretasi dari nabi dan para sahabat. Kedua tafsir bi al- ra’yi yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran dari pada hadis dan pendapat sahabat. Kedua metode ini memang berkembang pada masa bani Abbas , akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir bi al- ra’yi ( tafsir rasional )sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan.

C.4. Baitul Hikmah:dan observatorium

Al-Ma’mun mengembangkan lembaga

Ini dan diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah. Pada masa ini,Baitul Hikmah dipergunakan secara lebih maju yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang didapat dari Persia, Bizantium dan bahkan Etiopia dan India.Di institisi ini,al-Ma’mun memperkerjakan Muhammad ibn Musa al-Hawarizmi yang ahli di bidang aljabar dan astronomi.Direktur perpustakan Baitul Hikmah sendiri adalah seorang nasionalis Persia dan ahli pahlewi, sahl Ibn Harun. Di bawah kekuasaan al-Ma;mun, Baitul Hikmah tidak hanya berfungsi sebagai perpustakan tetapi sebagai pusat studi dan riset astronomi dan matematika.

Baitul Hikmah dikuasai oleh satu mazhab penerjemah di bawah bimbingan Hunayn ibn Ishaq. Mereka menerjemahkan karya-karya keilmuan lain dari Galen karya-karya filsafat dan metafisika Aristoteles dan plato.Di Baitul Hikmah terdapat juga observatorium astronomi untuk meneliti perbintangan.

C.5. Perkembangan Ekonomi.

Ekonomi imperium Abbasiyah digerakan oleh perdagangan.Kebutuhan pokok dan mewah dari wilayah timur imperium diperdagangkan dengan barang-barang dari hasil wilayah barat.Dikerajaan ini,sudah terdapat berbagai macam indrustri seperti kain linen di mesir,sutra dari syiria dan irak,kertas dari samarqand,serta berbagai produk pertnian seperti gandum dari mesir dan kurma dari Iraq.

Hasil-hasil indrustri dan pertanian ini diperdagangkan keberbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah dan negara lain. Karena indrustrialisasi yang muncul di perkotaan ini, urbanisasi tak dapat di bendung lagi.Perdagangan barang tambang juga semarak.Emas yang di tambang dari Nubia dan sudan barat (termasuk wilayah yang kini bernama Mali dan Niger) melambungkan perekonomian Abbasiyah.

Perdagangan dengan wilayah-wilayah lain merupakan hal yang sangat penting.secara bersamaan dengan kemajuan Daulah Abbasiyah, Dunasti T’ang di china juga mengalami masa puncak kejayaan sehingga hubungan perdagangan antar negara menambah semaraknya kegiatan perdagngan tingkat dunia. Kapal-kapal laut cina berlayar ke Bagdad, dilakukan melalui jalan darat melalui jalan sutra yang sudah digunakan sejak masa kuno.Barang-barang dari Eropa dan Afrika yang dikirim ke wilayah cina dan India pasti melalui Bandar-bandar dangang di Abbasiyah.Meski peperangan yang sporadik, Perdagangan dengan Byzantium di Eropa timur juga berlangsung,sedangkan Eropa barat masih dalam kegelapan.Perdagangan dengan kerajaan-kerajaan di wilayah Nusantara juga berlangsung dengan intensif.

D. kemunduran Daulah Bani Abbasiyah

Ada beberapa faktor yang menyebabakan keruntuhan pada masa Daulah Bani Abbasiyah diantaranya yaitu :

a. Persaingan antar bangsa

Khalifah abbasiyah didirikan oleh bani abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa bani umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelalah khalifah abasiyyah berdiri, dinasti bani abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Stryzewska, ada dua sebab bani abbas memilih orang-orang Persia daripada orang Arab. pertama, sulit orang-orang Arab melupakan Bani Umayyah.Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Kedua, orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya’ashabiyyah kesukuan. Dengan demikian, Khalifah Abasiyyah tidak ditegakan di atas’ashabiyah tradisional.

Meskipun demikian, orang-orang persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu, bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir ditubuh mmereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam.

Selain itu, wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas, melalui berbagai bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syaria, Irak, Persia, Turki dan India. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. Kecuali Islam, pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elmen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. Akibatnya, disamping fanatisme kearaban, akibatnya disamping fanatisme keakraban muncul juga fanatisme bangsa- bangsa lain yang melahirkan gerakan syu’ubiyah.

Kebangsaan ini tampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Sementara itu, para kholifah menjalankan sistem perbudakan baru. Budak – budak bangsa Persia atau Turki dijadikan tentara atau pegawai.mereka diberi nasab dinasti dan mendapat gaji.Oleh bani Abbas, mereka dianggap sebagai hamba. Sistem perbudakan ini telah memepertinggi pengaruh bangsa Persia dan Turki bangsa. Karena jumlah kekuatan mereka yang besar, mereka merasa bahwa negara adalah milik mereka, mereka mempunyai kekuasaan atas rakyat berdasarkan atas kekuasaan kholifah.[18] Kecenderungan masing- masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal kholifah Abbasiyah berdiri.

b. Kemerosotan ekonomi

Pada periode pertama, pemerintahan Abbasiyah merupakan pemerintahan yang sangat kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar hingga Bait Al- mal penuh dengan harta[19]. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari Al- kharaj semacam pajak hasil bumi.

Setelah kholifah memasuki periode kemunduran, pendapatan negara mulai menurun, sementara pengeluran meningkat lebih besar. Hal itu terjadi karena makin menyempitnya wilayah kekuasan, banyak terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat, diperingankannya pajak dan banyaknya dinasti – dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak membayar upeti lagi. Sedangkan pengeluaran negara terus membengkak karena kehidupan para kholifah dan pejabat semakin mewah, jenis pengeluaran pun makin beragam dan para pejabat banyak melakukan korupsi.

c. Konflik keagaman

Munculnya gerakan yang dikenal dengan gerakan zindiq adalah mengoda rasa keimanan para kholifah. Al- mansur mencoba memberantasnya, Al- mahdi mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan orang zindiq dan melakukan mihnah untuk memberantas bid’ah[20]. Akan tetapi, semua kegiatan itu tidak menghenghentikan kegiatan mereka. Konflik antara kaum beriman dengan dengan golongan zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang sederhana seperti polemik tentang ajaran, sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah seperti gerakan yang dilakukan oleh Al- afsyin dan Qaramithah.

Pada saat gerakan ini mulai tersudut, pendukungnya banyak bersembunyi dibalik ajaran syiah sehingga banyak yang bersifat ghulat ( ekstrim ) dan dianggap menyimpang dari ajaran syiah. Konflik yang di latar belakangi agama tidak terbatas pada konflk antara muslim dan zindik, atau ahli sunnah dengan syiah.

d. Ancaman dari luar

Kehancuran daulah bani Abbasyiah ini terjadi tidak hanya dari faktor intern tertapi juga dari faktor ekstren. pertama, perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. kedua serangan tentara mongol ke wilayah kekuasaan islam . sebagaimana telah di sebutkan , orang – orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah paus Urbanus 11 (1088-1099M) mengeluarkan fatwanya . Perang itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang kristen yang berada di wilayah kekuasaan islam.Namun , di antara komunitas- komunitas Kristen timur hanya Armenia dan manorit Lebanon yang tertarik dengan perang salib dan melibatkan diri dalam tentara salib itu.[21]

Pengaruh salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Disebutkan bahwa hulagu khan , panglima tentara Mongol , sangat membenci islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian . Gereja-gereja Kristen berasiosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti islam itu dan diperkeras dikantong-kantong ahli al-kitab .Tentara Mongol, setelah menghancur leburkan pusat-pusat islam , ikut memperbaiki yerussalem.

KESIMPULAN

Peradaban islam mengalami kejayan pada masa daulah bani abbasiyah , pada waktu itu berbagai bidang mengalami kemajuan mulai dari bidang politik, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Kemajuan pada waktu itu tidak hanya semata oleh jasa para kholifah yang memimpin pemerintahan yang dengan bijakssana, tetapi karena dukungan dari masyarakat sendiri yang hidup pada masa pemerintahan tersebut.

Kemajuan pada waktu itu disebabkan pula adanya gerakan penerjemahan yang dilakukan dari masa – kemasa pada saat pemerintahan daulah bani abbasiyah. Penerjermahan yang dilakukan ini oleh sebagian kholifah diberi bayaran yang sangat besar sekali, buku- buku yang diterjemahkan biasanya berasal dari bahasa Persia, yunani dan bangsa eropa, buku- buku tersebut diterjemahkan kedalam bahasa arab dan pada masa ini pula pertama kalinya dibangunkan perpustakan yang diberi nama Al – hikmah yang digunakan untuk membaca, menulis, berdiskusi dan sebagai tempat riset pada waktu itu.

Kemajuan pada saat itu juga melahirkan beberapa ahli filsafat islam seperti ibnu sina, al-farabi, ar-razi dan yang lainnya, yang ahli dalam berbagai bidang misalnya kedokteran, astronomi, filsafat, astrologi dan matematika dan lain sebagainya yang membangun kemajuan islam pada masa itu.

Karena kehidupan didunia ini tidak ada yang abadi begitu juga dengan pemerintahan bani abbas ini , setelah mengalami kejayaan akhirnya dalam berbagai bidang. kini tiba saatnya juga untuk mengalami kemunduran yang dilakukan oleh para pemerintahannya sendiri yang tidak lagi memperhatikan keadaan rakyatnya tetapi lebih mementingkan kepentingan sendiri, penerintahah banyak melakukan korupsi dan memperkaya dirinya sendiri sehingga pengeluran negara bertambah sangat banyak. Sehingga mulailah perekonomian pada saat itu merosot, selain dari faktor intern juga ada beberapa faktor yang datangnya dari luar seperti telah dipaparkan diatas.

Dinasti Buwaihi

Asal – usul dinasti buwaihi

Dinasti Buwaihi dirintis oleh tiga bersaudara: Ali, hasan dan Ahmad yang berasal dari Dailam. Bapak mereka adalah Abu sujai al buwaihi. Tiga saudara ini dalam sejarah di kenal sebagai tentara bayaran. Ketika terjadi perang antara makan Ibn kaki al-dailami dengan Mardawij, tiga bersaudara ini membelot dari makan dan berpihak kepada mardawij dengan alasan, Makan Ibn kaki al dailami tidak lagi mampu membayar mereka Mardawij menyambut baik keberpihakan mereka. Oleh karena itu, di samping di percaya memimpin pasukan, mereka diberi kewenangan untuk memimpin wilayah. Ali ibn buwaihi di percaya memimpin kirman dan Hasan Ibn buwaihi di percaya memimpin Asbahan, Ray dan Hamadjan.[22]

Sistem pemerintahan

Ketika Bagdad ( kholifah Al mustakfi dari dinasti bani Abas ) dilanda konflik internal, Ahmad ibn buwaihi di panggil ke istana oleh khalifah al mustakfi dan ia di angkat menjadi komando militer ( amir al-umara ) dan berkuasa sekitar tujuh tahun 334–356 H / 945–967 M dan diberi gelar Mu’iz al-Dawlat, mereka lebih berpengaruh bahkan kholifah berada dibawah kendali mereka.[23]

a. Pembentukan kholifah Boneka

Ketika berkuasa di bagdad kholfah bani Abbas dijadikan penguasa simbolik ( dejure ) dan pengendalian pemerintah secara defacto berada ditangan para amir tiga bersaudara ini memiliki daerah kekuasaan masing – masing. Ahmad Ibn buwaihi berkuasa di Bagdad, Ali Ibn buwaihi ( ‘imad al dawlat’ ) berkuasa di farsi dan Hasan Ibn buwaihi ( Rukn al dawlat ) berkuasa dijibal, Rayy, dan isfahan.[24]

Bani buwaihi melucuti kekuasan politik dan sumber – sumber material para kholifah. Mereka menjadikan kholifah sebgai pemimpin agama dan sekaligus menjadi alat yang dapat mereka gunakan untuk mencapai ambisi mereka. Keunikan bani buwaihi adalah para amir buwaihi menganut syi’ah, tetapi mereka tidak menghapuskan kholifah ( sunni ). Hal ini kemudian melahirkan analisis historis yang beragam. Menurut satu fersi, mereka tidak menghapuskan kholifah karena khawatir akan mendapat penentangan dan berlawanan dari para amir yang masih mengakui kholifah bani Abbas.[25]

Sekalipun tidak menghapuskan kholifah, buwaihi berupanya mengakampanyekan syi’ah. Di Bagdad dengan beberapa gerakan :

1. Buwaihi mengintruksikan kepada pengelola masjid – masjid agar menuliskan kalimat berikut : “Alloh melaknat mu’awiyah Ibn abi supyan, yang merampas hak fatimah r.a.’ yang melarang hasan Ibn Ali dikuburkan berdampingan dengan makam kakeknya SAW. [26]

2. Buwaihi menetapkan hari – hari bersejarah bagi syi’ah dijadikan perayaan resmi negara, seperti perayaan 10 Muharam untuk memperingati kasus karbala dan peringatan 12 Djulhijah yawm al-ghadir yang dalam keyakinan syi’ah, nabi SAW mewasiatkan kepada Ali ibn abi thalib sebagai penguasa duniawi dan agama peninggalan beliau.[27]

Perlakuan kasar terhadap kholifah antar lain dilakukan oleh Ahmad ibn buwaihi ( mu’iz al-dawlat ), Ahmad ibn buwaihi mendapat informasi bahwa kholifah al-mustakfi akan memecatatnya dari jabatan amir al-umara’. Pada saat kholifah sedang mengadakan pertemuan Ahmad ibn buwaihi bersama dengan dua pegawai dari dailam, datang pada kholifah, lalu ahmad ibn buwaihi sujud dan mencium dua tangannya. Kemudian dua pegawai Dailam juga menghadap kholifah menurut dugaan kholifah al-mustakfi, dua pegawai itu akan mencium tangannya juga, lalu menarik tangannya. Ikat kepalanya diputar, lehernya di cekik dan kholifah diseret kehadapan Ahmad ibn buwaihi. Kemudian kholifah dipenjarakan dan matanya dicongkel hingga buta dan ia meninggal di dalam penjara. Kemudian Ahmad ibn buwaihi mengngkat abu al-qosim al-fadhl ibn al-muqtadir sebagai kholifah dengan gelar al-muthi’. [28]

Ahmad ibn buwaihi meninggal karena sakit ( 356 H ) dan diganti oleh anaknya, Bakhatiar ( 356-367 H / 967-978 M ) dengan gelar Izz al-dawlat. Bakhtiar berselisih dengan kholifah al-muth’I karena kholifah tidak mengijinkan pengunaan dana negara untuk melawan pasukan romawi. Akan tetapi, ia terus memaksa kholifah sehingga kholifah terdesak dan terpaksa menjual Qumashnya seharga 4 ribu dirham dan direbut oleh Bakhtiar untuk biaya perang. Kholifah al-mu'thi meninggal dan digantikan oleh al-tha'I. Pengganti baktiar adalah Adud al-dawlah ( 367-372 H ), pada masanya kholifah al-tha'i diperlakukan secara lebih baik dan Adud al-dawlah menikah dengan putri kholifah dan sebaliknya putrid Adud al-dawlah pun dikawin oleh kholifah.[29]

Kemajuan Buwaihi

Pada zaman Adud al-dawlah, bani buwaihi meraih kemajuan.

a. Pembangunan rumah sakit 'Bimaristan al-Adhudi" yang memiliki 24 tenaga medis dan rumah sakit yang dijadikan pusat studi kedokteran. Rumah sakit ini didiraikan pada tahun 987 M. [30]

b. Pembangunan sekolah – sekolah dan observatorium di Bagdad, syiraj, Rayy dan istifham, serta gerakan penerjemahan yang dipelopori oleh Adud al- dawlah.

c. Gerakan penerjemahan inji dilakaukan dengan dua criteria dalam pemilihan materi yaitu : kemampuan menejerial dan kemampuan retorika. Oleh karena itu wajar apabila para menteri Buwaihi pandai dalam sastra.[31]

d. Muncul penyair ternama yaitu Abu Ali al-farisi yang menulis “kitab al-idhah” ( book of explanation ) yang didedikasikan pada Adud al- dawlah

e. Lahir sejumlah pakar yang hingga saat ini masih dijadikan rujukan. Seperti

· Ibnu sina, filosof yang pernah menjadi hakim pada dinasti buwaihi

· Ibn masykawaih pakar sejarah yang kemudian menjadi seorang filosofis dengan karyanya Hayy Ibn Yaqzhan.

· Istakhri ahli ilmu bumi

· Nasawi pakar matematika dan beliau yang memperkenalkan angka India sehingga berkembang pesat.

· Kelompok Ikhwan al-shafa.[32]

· Al-Khawarijmi ahli bidang al jabar

· Ibn Haitsam ( Alhazen, w.1039 ), pemilik teori cahaya yang lebih sempurna dibandingkan dengan teori cahaya Euclid dan Ptolomius.[33]

Buwaihi dikenal sebagai dinasti yang berhasil menghidupkan kembali ajaran mu’tazilah. Pada waktu itu banyak berkembang gagasan mu’tazilah yang dikemukakan oleh para tokoh mu’tazilah pada masa dinasti buwaihi yaitu : Al-Qadhi Abu al-Jabbar, Abu khudzail al-Allaf, Alnazham, Bisr Ibn Mu’tamir.[34]

Kemunduran dinasti buwaihi

Sepeninggal Muiz al-Dawlah dilanda berbagai konflik internal, perebutan kekuasaan, buwaihi tidak dapat mengatasi persaingan ditubuh militer yang berasal dari dua suku : Dailam dan Turki saljuk. Salah satu peristiwa yang penting adalah jabatan malik Abd al-rahim sebagai amir al-umara berusaha direbut oleh panglimanya sendiri , Arselan al- Basasiri yang kemudian memperlakukan Malik Abd al-rahim dan al-Qaim dengan semena-mena.[35]

Disisi lain, Bizantium mulai mengadakan serangan kembali kedunia islam dan dinasti kecil diluar Bagdad memanfaatkan situasi ini denagn melepaskan diri dari kekuasan Bagdad dan menaklukan wilayah lain seperti fatimiah di kairawan menaklukan mesir dan sudan, dan memproklamirkan diri sebagai kholifah. Karena bertikai denagn Malik Abd al-rahim, Arselan basiri mengundang dinasti fatimiah untuk menguasai Bagdad. Hal itu membuat kholifah khawatir dan akhirnya meminta bantuan tugril Bek ( turki Seljuk ) yang berkuasa di jibal. Pada tanggal 18 Desember 1055 ( 447 H ), Tugril Bek memasuki Bagdad, Malik ibn al-rahim (amir al-umara) dipenjara, kekuasaan dinasti buwaihi berakhir dan selanjutnya dinasti bani Abbas bekerja sama dengan saljuk.[36]

Dinasti Saljuk

Asal – usul Dinasti Saljuk

Asal - usul dinasti Seljuk dinisbahkan kepada saljuk ibn Tuqaq. Tuqaq adalah ayah saljuk pemimpin suku oghus ( Ghuzz atau Oxus ) yang menguasai turkistan, tempat mereka tinggal. Saljuk ibn tuqaq pernah menjadi panglima inperium Ulghur yang ditempatkan diselatan lembah tahrim dengan kashgar sebagai ibu kota. Karena merasa tersaingi permaisuri ulghar merencanakan pembunuhan pada saljuk, akan tetapi rencana tersebut sudah diketahui oleh saljuk.

Dalam rangka menghindari pembunuhan saljuk dan pengikut setianya menyelamatkan diri kearah barat, yaitu daerah jundi ( jand ) yaitu daerah bagian Asia kecil yang dikuasai dinasti samaniyah yang dipimpin oleh Amir Abd al-Malik Ibn Nuh (954-961 M). Amir Abd al-malik Ibn nuh mengijinkan Seljuk tinggal di jundi dekat Bukhara.

Karena kebaikan pemimpin tersebut saljuk dan pengikutnya masuk islam dengan aliran yang dianut masyarakat setempat yaitu sunni.[37] Selain itu juga ia membalas nya dengan membantu mempertahankan dinasti samani dalam menghadapi serangan – serangan dinasti ulghur. Dalam perang tersebut Seljuk meninggal dunia dan meninggalkan tiga anaknya yaitu : Arselan, mikail dan musa.[38]

Sepeningal saljuk, pimpinan suku di pegang oleh mikail. Akan tetapi , ia pun gugur ketika perang melewan dinasti ghaznawi yang hendak merebut khurasan dari samaniyan. Setelah wafat, mikail di gantikan oleh anaknya, tugril bek. Ia berhasil menguasai merv (ibu kota khurasan ), jurjan, tribistan, dailam dan karman (1037 m). selain itu, tugril bek memproklamirkan berdirinya dinasti saljuk dan diakui oleh dinasti bani abbas sekitar tiga tahun kemudian (1040 m). Setelah itu, tugril bek menguasai iran atau Persia, Anatolia, dan Armenia [39]

Di bagdad terjadi penindasan yang di lakukan oleh dinasti buwaihi terhadap kholifah bani abbas. Karena bertikai dengan malik abd al-rahim, Arselan al-basasiri ( panglima militer ) mengundang dinasti fatimiyah untuk menguasai Bagdad. Pada tanggal 18 Desember 1055 (447 H) Tugril memasuki Bagdad, pertempuran terjadi antara tugril dan pasukan Arselan, dalam pertempuran itu arselan terbunuh, serta kholifah al-Qaim dikeluarkan dari penjara. Sedangkan malik Abdal-rahim ( amir al-umara ) dimasukan kedalam penjara. Dan sebagai kehormatan al-Qoim diberi gelar “ Raja timur dan barat”. Tugril bek meninggal dan digantikan oleh kemenakannya arselan karena tugril bek tidak mempunyai keturunan. [40]

Kemajuan Dinasti Saljuk

1. Memperluas mesjid al-haram dan mesjid al-nabawi

2. Pembangunan rumah sakit Dinaisafur

3. Pembangunan gedung peneropong bintang dan pembangunan sarana pendidikan, yang sangat terkenal yaitu nizham al-mulk beliau adalah pemrakarsa berdirinya perguruan nizhamiyah yang berpusat di Bagdad dan cabang – cabangnya, Di Balkh, Naisafur, Hirah, Isfahan, Bashrah, Merv dan Mosul.

4. Diperguruan tinggi lahir ulama besar diantaranya : Imam al-haramayn aljuwaini, Imam al ghozali, Imam fakhr ar-razi, zamakhasyari,Imam al-qusyairi.

5. Dalam bidang eksakta, muncul sejumlah ulama yaitu :

· Umar ibn khayam ahli astronomi dan ilmu pasti.

· Ali yahya al-haslan ahli ilmu kedokteran, beliau menulis kitab al- manhaz fi al-thib

· Abu hasan al- mukhtar ahli ilmu kedokteran. Beliau menulis kitab Da’wat al-thibi

· Muhammad Ali al-samar qandi ahli ilmu kedokteran. Beliau menulis kitab Aghziarat al-mardha

Kemunduran Dinasti Saljuk

Dinasti saljuk dilanda konflik internal dan akhirnya wilayah kekuasannya dibagi – bagi menjadi kesultanan – kesultanan yang dikendalikan oleh para atabek ( para budak yang menjadi pembesar negara ) malik syah meninggalkan sejumlah anak : Barkiyaruk, Muhammad, Sanjar dan Mahmud. Ketika Barkiyaruk menjadi sultan, sanjar seringkali berusaha merebut kekuasaan. Setelah Sanjar meninggal saljuk menjadi kesultanan – kesultanan kecil.[41]

Secara eksternal, Eropa yang merasa ditindas oleh Seljuk melakukan perlawanan. Karena serangan - serangan dari Bizantium dan Eropa, saljuk menjadi lemah. Kelemahan saljuk diperparah lagi dengan adanya gerakan dinasti khawarizm yang berusaha merebut daulat Abasiyah dari tangan saljuk. Dinasti saljuk di Bagdad berakhir dan dilanjutkan oleh Atabek.[42]



[1] Roberto marin - Guzman, popular dimensions of the ‘abbasid revolution, a case study of medieval Islamic social histori, ( cambride, Massachusetts : fulbright – laspau , 1990) , hal. 89 – 91 .

[2] lapidus A Histori of Islamic ,hal 87

[3] hugh kennedy, the early Abbased caliphate, a political Histori, ( London :croom helm,1981) hlm.

[4] Ibid hal.93.

[5] ibid hal 51; Harun Nasution ,islam ditinjau dari berbagai aspek,( Jakarta; ui – press 1985 ),j.h.67.

[6] Badri yatim,loc.cit.

[7] ibid hal. 115 - 133

[8] Ahmad amin, dhuha al- islam jilid I ( kairo: lajnah Al- Ta’lif wa Al- nasyr, tanpa tahun ) hal.207.

[9] ibid hal. 177 – 178.

[10] Ibid. hal.288 – 290.

[11] harun nasution ,op.cip. jilid I hal. 71

[12] A.Razaq Naufal, Umat Islam dan Sains Moder, (Bandung:Husaini,1987),hlm. 47.

[13] Ibid.hlm.88.

[15] Kitab ini telah dikomentari oleh sejumlah ulama.lihat mudin al – Muhy al-din Muhammad ibnu baha al- din al- qawl al- fashi syarh al- fiqh al- akbar li al-imamal-Azam abi hanifah ( turki : Maqtabah Al- haqiqah 1998 )

[16] lihat malahusen ibn iskandar Al hanafi “kitab al- jawaharat al- munifat fi syarh washiyyatal- imam Al azhamAbi hanifat dalam Alrisa’il al- sab’at fi Al- aqo’id (haderabat : jam’iyah Dai’rah al- ma’arif 1948 ), h.74 –102 .

[17] Hasan ibrahim hasan ,op.cip.hlm.129

[18] Ahmad Amin, dhuha al – islam, jilid I ( kairo lajnah Al- Ta’lif wa Al – Tarjamah wa Al- Nasyr, tanpa tahun) hal.21

[19] Philip k..Hitti. loc.cit.

[20] Philip k. Hitti.op.cit. hal.470

[21] nurkholis mazid khajanah intelektual islam ( Jakarta : Bulan Bintang,1984), hal.35

[22] D.s. Margoliout, Op.cit, h. 241

[23] Ibid.

[24] Ibid

[25] Hasan ibrahim hasan, sejarah, Op. cit.h. 205.

[26] M. Syalabi, sejarah dan kebudayaan islam III, ( Jakarta: pustaka Alhusna, 1993 ), h.332.

[27] Ahmad amin, zhur al –islam ( kairo: makhtabah al-nahdhah al-mishariyah,1999), jilid I, h.53

[28] Muhammad jamal al-Din surur, Op.cit,h.53

[29] Ibid. H. 58

[30] Ahmad, amin. Op.cit. h. 57

[31] Ibid.h.255

[32] Philip k, Hitti, Op.cit. h. 472

[33] Ibn atsir,al-kamil fi al-tarikh ( Beirut: Dar al-fikr, t.th.) j.VIII,h.479

[34] siti maryam.dkk.,Op.cit.h.135

[35] badri yatim.Op.cit, h. 72

[36] W.Montomery watt, kejayaan Op.cit.h.233.

[37] C.E.Bosworth, Barbarian Incursion : “the coming of turk into the Islamic world” dalam D.S. richad , Islamic civillsation,950-1150,oxford: Bruno casier 1973.h.10-11

[38] s. margoliuth,Op.cit.h. 124-243

[39] siti maryam dkk.Op.cit.h. 136

[40] s. margoliout, Op.cit.h. 242-243

[41] D.S.Margoliouth,Op.cit.h. 245-246

[42] Ibid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar